Butterfly Still Fly



Melancong ke Monas

Hari ini kami berencana wisata sejarah ke Monas, monumen nasional Indonesia. Ara mungkin belum mengerti apa itu indonesia, perjuangan, dan kemerdekaan. Tapi tidak ada salahnya dikenalkan lebih dini. Sekedar pernah melihat, syukur-syukur ingat atau paham *ya kali* :p

Kami berangkat dari rumah pkl. 11.30 wib. Panas bok. Tapi begitu masuk ruangan museum langsung adem. Di jadwal tertulis jadwal buka museum selasa-minggu pkl.09.00 – 16.00 wib. Hari senin tertutup untuk umum. Pintu masuk museum melewati terowongan di sisi belakang patung Diponogoro (yang sedang naik kuda). Tiket masuk lumayan murah, Rp 15.000 sudah termasuk terusan hingga puncak untuk dewasa. Ara gratis, tidak tahu sih batas gratis hingga umur berapa tahun.

Monas berukuran panjang 132 meter dengan bentuk seperti lingga – yoni. Tugu  yang menjulang tinggi adalah lingga yang melambangkan laki-laki, elemen maskulin yang bersifat aktif dan positif, Sementara pelataran cawan adalah Yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminin yang pasif dan negatif. lingga dan yoni juga berarti kesuburan dan keharmonisan.

Pada museum bawah terdapat banyak diorama di keempat sisi ruangan. Dioramanya menggambarkan kondisi indonesia dari jaman purba – kerajaan hindu – masuknya islam – penjajahan belanda- penjajahan jepang – kemerdekaan – hingga pemberontakan PKI. Bakal menarik nih klo pelajaran sejarah dilakukan disini dibandingkan di kelas.
Jika kita naik lagi ke bagian cawan, ada ruangan besar seperti aula (lengkap dengan tempat duduk marmer) yang mengelilingi sebuah pilar empat sisi. Dimasing sisi terpasang naskah proklamasi, teks proklamasi, garuda pancasila, dan peta indonesia. Naskah proklamasi terpasang dalam figura emas ditengah gapura. Setelah gapura terbuka, kita bisa melihat naskah proklamasi diiringi suara Soekarno.
Fyi, naskah ini bukan naskah proklamasi asli. Naskah asli disimpan di museum arsip indonesia dan bukan untuk konsumsi publik. Naskah yang dipajang di Monas berukuran 4x ukuran asli, alasannya agar mudah dibaca pengunjung.
Selesai mendengarkan penuturan guide di bagian cawan, pengunjung turun kembali ke pelataran. Bagi yang ingin naik ke atas bisa ikut anterai melalui lift. Tapi melihat antraian yang panjang seperti ular naga, emmm… Jadi malas ikutan. Kami memilih turun kembali ke lapangan. Terdapat Kereta (bus?) gratis yang mengantar pengunjung ke lapangan Irti. Di sekitar lapangan Irti ada banyak tempat duduk dibawah pohon rindang. Beberapa pedagang asongan siap menawarkan minuman dingin, popmie hingga tikar. Jika berjalan terus ada spot kecil berisi peralatan gym. Jalan lagi ke timur ada kandang rusa tutul. Anteng deh mereka, bisa disentuh.
Kalau ditanya fasilitas bermain untuk anak cukup terbatas. Ada beberapa ayunan di depan kandang rusa, alat gym yg dialih fungsi jd prosotan. Namun lapangan yang luas dan rindang dapat menjadi nilai tambah untuk tempat main anak ditengah sempitnya rumah2 jakarta (*curcol yg kontrakannya sempit :p )
Jadi kapan mau mengajak anak bermain ke monas?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: