Butterfly Still Fly



ku ingin terbang…

mother-love

kiri!

ku melangkah ke kiri…

kanan!

ku belokkan kaki ini ke kanan…..

jalan. berhenti. duduk. makan. tidur.

semua aktivitas yang ku lakukan selalu atas keinginanmu,

telah mendarah daging kupercayai sebagai keinginanku sendiri

ku dengar surga ada di telapak kakimu

tentulah engkau mahluk surga yang ditugaskan menjagaku,

ku yakin itu…

namun ada kalanya aku tak ingin dijaga

biarkan aku terjatuh

terpeleset

dan menangis…

aku ingin mengenal dunia dengan caraku sendiri

biarkan jariku terluka saat ku raba dunia

biarkan tetes tangisku membasahi tanah

jangan ikat erat dengan kasih sayang ini

nafasku terasa sesak

biarkan aku melangkah pergi

genggam janjiku tuk kembali

akulah si burung merpati yang akan kembali pulang ke sarang dengan segala cerita setelah lelah terbang mengitari bumi ini….

aku ingin bermain di tempat yang lebih luas ‘Bu..

rumah boneka yang kau berikan sudah kekecilan untukku…

biarkan aku mencoba sayapku

24 tahun ku jahit helai per helai bulu sayapku

telah tampak kuat kurasa

biarkan aku mengujinya ibu ku sayang…

 

wah, menemukan puisi ini di Draft dengan catatan tersimpan 5 tahun yang lalu. 5 tahun yang lalu saat baru berusia 25 tahun, baru menyandang gelar dokter, dengan semangat muda yang membara ingin pergi mengembara ke barat eh ke timur, alias PTT. PTT adalah singkatan Pegawai Tidak Tetap yang familiar bagi dokter, untuk mengabdi ke daerah terpencil, biasanya sih daerah timur Indonesia dimana masih kurang dijangkau oleh fasilitas kesehatan yang memadai.

Apakah itu berarti aku punya jiwa sosial yang tinggi? Oh anda salah jika berpikiran seperti itu. aku semangat ikut PTT karena terinspirasi dengan Novel Labuan Bajo. hahaha benar sekali, hanya karena sebuah novel. singkat cerita novel tersebut bercerita tentang dokter PTT (cewek) yang bertugas di Labuan bajo. disana dia bekerja dan jatuh cinta, cinta pada alamnya, dan cinta pada kepala puskesmasnya. hehehehe mupenggggg…

Tapi apa daya, Ibu tidak memberi restu untukku berangkat PTT. jadilah hanya bisa dadah-dadah mupeng pada 3 sahabatku yang tetap berangkat PTT. huhuhu sepertinya saat itulah aku menulis puisi diatas. pokoknya dulu awal-awalnya keselll BGT deh sama ibu.

Tapi kini?

Aku mengerti perasaan ibu. Setelah aku menjadi seorang Ibu. Jangankan Ara berangkat PTT (ya kali dia mau), Ara mau ikut kegiatan di rumah bermain saja aku ekorin kesana-kesini. atau minimal dia masih tampak dari sudut mataku. Prinsipku, dalam 3 detik bisa segera menangkapnya jika terjatuh. ckckckck betapa (over)protive -nya diri ini. sepertinya ini yang dirasakan ibu. Bahkan meski kini anak gadisnya ini sudah menikah dan memiliki anak juga.

Ibu, I love you….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: