Butterfly Still Fly



SAAT TEORI BERSINGGUNGAN DENGAN KENYATAAN

f92df465ca5f0608Sudah pernah membaca novel metropop “Dengan Hati” karya Syafrina Siregar? Bagi yang mengaku aktivis, konsultan, pendamping ODHA, tenaga medis yang sering berhadapan dengan pasien yang CD4 rendah ataupun orang-orang yang peduli dengan isu sosial HIV/AIDS yang semakin merebak dewasa ini kiranya perlu untuk membaca novel ini. Well, seperti namanya, novel, isinya seh gak berat-berat amat yang membuat kalian mesti membaca dengan mengerutkan dahi segala. Kalian pasti udah membaca segala modul dan teori buku-diktat-protap yang membahas HIV/AIDS dari kacamata kedokteran. Tapi pernahkah kalian melihat atau terlibat secara langsung dengan ODHA? Bagaimana sikap kalian? Bisakah kalian bersikap biasa? Atau jangan-jangan kita, orang-orang yang menyerukan “stop diskriminasi terhadap ODHA”, yang malah mendiskriminasikan mereka. Yah, bekal teori yang kita miliki ternyata terkadang tidak mencukupi untuk mengubah prilaku kita. Inilah salah satu saat dimana teori bersinggungan dengan kenyataan yang ternyata kejam………………..

Kita resume dulu yah apa aja jalan cerita dalam novel tersebut :

Adalah seorang cewek muda bernama Mila yang bekerja sebagai konsultan yayasan social yang bergerak di bidang HIV/AIDS. Bersahabat dengan ODHA ia tidak keberatan. Tapi apa yang akan ia lakukan jika orang yang disukainya adalah ODHA? Bersahabat dan hidup bersama dengan ODHA adalah dua hal yang sangat berbeda…… Di sisi lain ayahnya yang kebetulan seorang Sp.OG memiliki konfliknya sendiri. Jika membantu melakukan persalinan pada ODHA ia mau melakukannya, namun saat seorang ODHA datang untuk melamar buah hati satu-satunya, sanggupkah ia mengijinkannya?

Apakah cerita ini hanya cerita belaka? Hanya ada dalam sejilid kertas berlabelkan novel? Sepertinya dalam kehidupan nyata pun kita mengalaminya. Meskipun segudang ilmu dan teori telah kita telan dan cerna, namun nampaknya belum dapat diserap sampai ke sumsum nurani. Masih banyak contoh-contoh nyata problematika diskriminasi ODHA, yang nyatanya dilakukan oleh orang-orang yang mengaku tahu dan memahami tentang mereka.

Lihatlah ke rumah sakit, saat pemeriksaan harian dilakukan pada pasien B24, begitu lengkapnya perlindungan para tenaga medis. Handscun menempel pada kedua tangannya, masker menutupi mulut dan hidungnya. Apakah menurut kalian para tenaga medis itu bodoh? Tidakkah mereka tahu bahwa virus HIV tidak ditularkan melalui berbicara, keringat, serta sentuhan fisik sebatas memeriksa tensi dan nadi? Tentu tidak. Mereka orang-orang cerdas. Jika tidak, tidak mungkin mereka terpilih sebagai tempat bertanya keadaan saat kita merasa sakit. Mereka orang-orang yang telah menjalani hidup bertahun-tahun dalam tumpukan diktat dan protap. Mereka malah lebih tahu apa dan bagaimana virus HIV tersebut, bahkan jika kau iseng bertanya bagaimana perjalanan penyakit dan pathofisiologinya, mereka dapat menjelaskan sejelas-jelasnya sampai masalah interaksi mediator-cytokin-enzym dalam HIV dan segala istilah lainnya yang lebih berat. Namun saking beratnya materi yang dipelajari, tidak ada lagi tempat untuk mebahas sesuatu yang lebih ringan, sesuatu yang tidak tampak, sesuatu yang hanya dapat dirasakan, yaitu empati.

Bagaimana dengan para relawan dalam yayasan social AIDS? Ada banyak lembaga, yayasan, dan kelompok belakangan ini. Mungkin latar belakang pendiri yayasan ini memang tulus tanpa pamrih dan diskriminasi pada para ODHA. Namun seiring berkembangnya suatu lembaga, semakin banyaknya orang yang masuk, maka citra diri dan tujuan pun dapat bergeser secara tidak kasat mata. Cobalah kita lakukan survey kecil-kecilan, kita tanyakan secara sekilas pada para relawan atau aktifis atau anggotanya, apakah alasan yang mendasari mereka bergabung dalam kelompok tersebut? Mungkin akan ada yang menjawab ikut teman, karena intensif yang lumayan, atau sebagai ektrakulikuler yang banyak anggotanya di sekolah. Lalu apa yang akan mereka lakukan jika dihadapkan langsung pada ODHA suatu saat nanti? Mampukah mereka tersenyum, menjabat tangannya, dan berbincang dengan akrab? Akankah mereka mengajaknya bertandang ke rumah, berkenalan dengan anggota keluarga yang lain serta menawarkan menginap disaat hari telah larut malam? Akankah kita bisa menghilangkan diskriminasi yang diri ini lakukan disaat mulut sibuk mendengung-dengungkan stop diskriminasi?

Mari kita coba…………


Trackbacks & Pingbacks

Comments

  1. * greenpinky says:

    “stop diskriminasi” jng hanya di teriak2kan ja.. do it!!!!

    | Reply Posted 7 years, 9 months ago


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: